pencarian

Powered By Blogger

PENGUNJUNG BLOG

Kamis, 20 Maret 2014

perawatan payudara sebelum dan sesudah melahirkan

PERAWATAN PAYUDARA PASCA HAMIL DAN SETELAH MELAHIRKAN
Payudara selama kehamilan akan mengalami perubahan. Antara lain terasa lebih kencang, lebih besar, dan lebih penuh. Urat-urat halus di bawah permukaan kulit payudara juga menjadi lebih jelas, pembuluh darah bertambah dan melebar, serta puting susu dan aerola (daerah sekitar puting susu) menjadi lebih gelap. Di sekitar aerola ini, pada masa-masa menjelang melahirkan muncul bintik-bintik putih mengandung kelenjar-kelenjar yang memproduksi minyak sehingga dapat meminyaki dan melindungi puting susu saat menyusui
A.    Perawatan Payudara Sebelum Melahirkan
Perawatan payudara adalah suatu tindakan untuk merawat payudara terutama pada masa nifas (masa menyusui) untuk memperlancarkan pengeluaran ASI. Waktu PelaksanaanPertama dilakukan pada hari kedua setelah melahirkan, minimal dua kali sehari pada waktu mandi pagi dan sore hari.
Perawatan payudara dianjurkan mulai dilakukan setelah kehamilan berusia 5-6 bulan. Sebab, jika sejak awal kehamilan kita sudah melakukan perangsangan puting, misalnya, bukan hasil baik yang diperoleh, “tapi malah bisa menimbulkan kontraksi rahim, jelas Suharjanti.
Adapun perawatan yang dilakukan ialah:
1.      Pemijatan
Hal ini bisa dilakukan kala mandi. Sebelumnya siapkan di waskom air hangat dan air dingin, minyak kelapa yang bersih (paling baik jika bikinan sendiri) atau baby oil, handuk, dan kapas. Bersihkan payudara memakai air, lalu massage memakai minyak. Pemijatan dilakukan dengan memakai kedua tangan, sekeliling payudara diurut memutar searah jarum jam dan kemudian berbalik arah/berlawanan jarum jam. Setelah itu lakukan pengurutan dari bawah menuju puting, namun putingnya sendiri tak perlu di-massage karena tak berkelenjar tapi hanya merupakan saluran air susu belaka.
Usai massage, ketuk-ketuklah payudara memakai ujung jari atau ujung ruas jari. Gunanya agar sirkulasi darah bekerja lebih baik. Selanjutnya puting dibersihkan dengan menggunakan kapas dan minyak. Minyak ini berguna melenturkan dan melembabkan puting agar saat menyusui kelak puting sudah tak gampang lecet.
Terakhir, bersihkan payudara dan puting memakai air hangat dan dingin. Tujuannya untuk memperlancar sirkulasi darah. Setelah itu keringkan pakai handuk.
2.      Senam Teratur
Sebaiknya payudara juga dirawat dengan melakukan senam. Gunanya untuk memperkuat otot pektoralis di dada, sehingga memadatkan payudara dan merangsang produksi ASI agar lebih baik.. Bisa dilakukan sebelum atau sesudah mandi. Ada dua macam senam yang bisa dilakukan para ibu, yaitu:
Posisi berdiri, tangan kanan memegang bagian lengan bawah kiri dekat siku, sebaliknya tangan kiri memegang lengan bawah kanan (seperti orang bersidekap). Kemudian tekan kuat-kuat ke arah dada dengan cara mempererat pegangan, sehingga terasa tarikannya pada otot-otot di dasar payudara. Selanjutnya lemaskan kembali. Lakukan berulang-ulang hingga 30 kali.
Pegang bahu dengan kedua ujung tangan, kemudian siku diputar ke depan sehingga lengan bagian dalam mengurut (massage) payudara ke arah atas. Diteruskan gerakan tangan ke atas ke belakang dan kembali pada posisi semula. Lakukan latihan ini 20 kali putaran.

3.      Memakai Bra Yang Pas
Untuk mengatasi rasa tak enak pada saat payudara membesar, pakailah bra yang pas dan bisa memegang. Jangan pakai yang terlalu ketat atau longgar, tapi harus benar-benar pas sesuai ukuran payudara saat itu dan dapat menopang perkembangan payudara. Jika terlalu sempit akan menghambat perkembangan kelenjar payudara, sedangkan kalau terlalu longgar akan tampak jatuh dan sakit dipakainya.
Jika payudara sangat besar, ada baiknya untuk memilih yang memakai penyangga kawat. Karena bra yang tak menopang dengan baik pada payudara besar cenderung akan turun dan membentuk lipatan di bagian bawah payudara. Sementara jika si ibu tak menjaga kebersihan dan kekeringan di bawah lipatan tersebut, maka jamur biasanya akan tumbuh.
Tubuh ibu hamil cenderung berkeringat. Untuk itu, pilihlah bra dari bahan katun atau campuran katun sehingga nyaman dipakai dan mudah menyerap keringat. Tali pengikatnya agar dipilih yang lebar sehingga dapat menyangga payudara dengan baik.
Bila jamur sudah terlanjur hadir, segera bawa ke dokter. Sebab, jika jamur naik hingga ke seluruh payudara bisa menjadi masalah pada saat menyusui nanti.
Manfaat perawatan payudara saat hamil, diantaranya:
1)      Menjaga kebersihan terutama puting susu, sebagai jalur keluarnya ASI,
2)      Memperkuat puting susu bayi mudah untuk menyusu,
3)      Merangsang kelenjar-kelenjar air susu yang ada didalam payudara sehingga produksi ASI lebih banyak dan lancar,
4)      Mendeteksi apabila ada kelainan pada payudara secara dini dan melakukan pengobatan secepatnya,
5)      Mempersiapkan mental calon ibu untuk menyusui bayinya.

B.     Perawatan Payudara Pasca Melahirkan
Perawatan payudara untuk ibu menyusui  merupakan salah satu upaya dukungan terhadap pemberian ASI bagi sang buah hati tercinta. Apa saja yang dilakukan dalam perawatan payudara ibu menyusui akan diuraikan secara lengkap berikutini. Perawatan payudara pada ibu menyusui dapat dimulai sesegera mungkin setelah melahirkan.
1.      Tujuan Perawatan Payudara
Perawatan Payudara pasca persalinan merupakan kelanjutan perawatan payudara semasa hamil, yang mempunyai tujuan sebagai berikut :
a)      Untuk menjaga kebersihan payudara
b)     Untuk menghindari penyulit saat menyusui. Antara lain puting susu lecet, asi tidak lancar berproduksi, pembengkakan payudara
c)      Untuk menonjolkan puting susu
d)     Menjaga bentuk buah dada tetap bagus
e)      Untuk memperbanyak produksi ASI
Pelaksanaan perawatan payudara pasca persalinan dimulai sedini mungkin yaitu 1-2 hari sesudah bayi dilahirkan. Hal itu dilakukan 2 kali sehari.
2.      Pelaksanaan Perawatan Payudara
a.      Persiapan Alat
1.      Baby oil secukupnya.
2.      Kapas secukupnya
3.      Waslap, 2 buah
4.      Handuk bersih, 2 buah
5.      Bengkok
6.      2 baskom berisi air (hangat dan dingin)
7.      BH yang bersih  untuk menyokong payudara dan terbuat dari katun
b.      Persiapan Ibu
1.      Cuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dan keringkan dengan handuk.
2.      Baju ibu bagian depan dibuka
3.      Pasang handuk
c.       Pelaksanaan Perawatan Payudara
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan perawatan payudara pasca persalinan, yaitu:
1.      Puting susu dikompres dengan kapas minyak selama 3-4 menit, kemudian bersihkan dengan kapas minyak tadi.
2.      Pengenyalan yaitu puting susu dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk diputar kedalam 20 kali keluar 20 kali.
3.      Penonjolan puting susu yaitu :
a)    Puting susu cukup ditarik sebanyak 20 kali
b)   Dirangsang dengan menggunakan ujung waslap
c)    Pengurutan payudara:
1.      Telapak tangan petugas diberi baby oil kemudian diratakan
2.      Peganglah payudara lalu diurut dari pangkal ke putting susu sebanyak 30 kali
3.      Pijatlah puting susu pada daerah areola mammae untuk mengeluarkan colostrums.
4.      Untuk menghilangkan nyeri, ibu dapat minum parasetamol 1 tablet setiap 4-6 jam.
5.      Bersihkan payudara dengan air bersih memakai waslap.
6.      Apabila payudara bengkak,akibat pembendungan ASI maka ibu dapat melakukan:
a.       Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah hangat selama 5 menit.
b.      Urut payudara dari arah pangkal kea arah putting
c.       Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara,sehingga payudara menjadi luna
d.       Susukan Bayi setiap 2-3 Jam,apabila bayi tidak dapat mengisap seluruh ASI,sisanya keluarkan dengan tangan.
e.       Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3xSmwWSF2D3Hvrs8zzcFP443-jYyuyeuloKnbMDTmaH813bF2lwECsHO7KFzs_DG4fRk8iL4mbY_URVgG11RVE6SadTUFxWz9emc_1qcaLxF_NVE0ORPD78peNMuRbHXqXiJ9IE7s-A7y/s200/1.jpg
Pengurutan buah dada dari tengah ke samping kemudian ke bawah
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzwU1-m6I8Lik1BNeusdUEvOjZhczSnCSu_E64cED1NeUjVRGqsjCdSul0aPjE6Bvja-8l1RgLNYnI2WwFNOaq3pjAoUPxgHA5bibgeSMvBN8oUMZewGI3yrAx5xaEmyKMpvS9EgIZkLPG/s200/2.jpg
Pengurutan buah dada berputar dari tengah ke samping kemudian ke bawah Gambar
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_K7S6pYTIa3_lpvzFs6hhtyKUovkz2-_3HSgOin1CUx3yIremzq5y9JkcYuewzZdGDBqCsv9YzlpLKbqgbjV3GEEZxJH7QU4jY_9QXMQeyajDfxZ4cDhUTQyIcKsz0alObHqffSEDzehf/s200/3.jpgPengurutan buah dada berputar dari tengah ke samping kemudian ke bawah
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzwU1-m6I8Lik1BNeusdUEvOjZhczSnCSu_E64cED1NeUjVRGqsjCdSul0aPjE6Bvja-8l1RgLNYnI2WwFNOaq3pjAoUPxgHA5bibgeSMvBN8oUMZewGI3yrAx5xaEmyKMpvS9EgIZkLPG/s200/2.jpgPengurutan buah dada dari pangkal ke puting.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEion9WHBh5vvSvCmSGxTY7HP1fLFZlcShGH3hLbtg2c-vPs4YI5ijmSFK0ragzrcQCJwvCjd-XJwfqjaQjXKIOnKPhGAXdo3AIXJqsl9wWUSGVlWPhnU5Y2O30S0SU1EjyBVGtrsMnP1I9G/s200/clip_image002.jpgSetelah selesai pengurutan, payudara disiram dengan air hangat dan dingin secara bergantian selama ± 5 menit (air hangat dahulu kemudian air dingin). Kemudian pakailah BH yang menyangga payudara. Diharapkan dengan melakukan perawatan payudara, baik sebelum maupun sesudah melahirkan, proses laktasi dapat berlangsung dengan sempurna. 

Benigna Prostat Hiperplasia





BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kelenjar prostat merupakan organ tubuh pria yang paling sering mengalami pembesaran, baik jinak maupun ganas. Dengan bertambahnya usia, kelenjar prostat juga mengalami pertumbuhan, sehingga menjadi lebih besar. Pada tahap usia tertentu banyak pria mengalami pembesaran prostat yang disertai gangguan buang air kecil. Gejala ini merupakan tanda awal Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).
Pembesaran kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna pada populasi pria lanjut usia. Hiperplasia prostat sering terjadi pada pria diatas usia 50 tahun (50-79 tahun) dan menyebabkan penurunan kualitas hidup seseorang. Sebenarnya perubahan-perubahan kearah terjadinya pembesaran prostat sudah dimulai sejak dini, dimulai pada perubahan-perubahan mikroskopik yang kemudian bermanifestasi menjadi kelainan makroskopik (kelenjar membesar) dan kemudian bermanifes dengan gejala klinik.
Dengan adanya hiperplasia ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi saluran kemih dan untuk mengatasi obstruksi ini dapat dilakukan berbagai cara mulai dari tindakan yang paling ringan yaitu secara konservatif (non operatif) sampai tindakan yang paling berat yaitu operasi.



BAB II
KONSEP DASAR

2.1 Pengertian
Benigna Prostat Hiperplasia adalah kelenjar prostat mengalami, memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutupi orifisium uretra (Brunner & suddarth, 2001). Benigna Prostat Hiperplasi adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan (Price, 2006)
Benigna Prostat Hiperplasi adalah hiperplasia kelenjer periuretra yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah (Mansjoer, 2000).
Benigna Prostat Hiperplasi adalah kelenjar prostat bila mengalami pembesaran, organ ini dapat menyumbat uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli (Purnomo 2011).
Dari pengertian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa benigna prostat hyperplasia adalah pembesaran dari prostat yang biasanya terjadi pada orang berusia lebih dari 50 tahun yang mendesak saluran perkemihan.

2.2 Anatomi dan Fisiologi
2.2.1 Anatomi
Kelenjar prostate adalah suatu kelenjar fibro muscular yang melingkar Bledder neck dan bagian proksimal uretra. Berat kelenjar prostat pada orang dewasa kira-kira 20 gram dengan ukuran rata-rata : panjang 3,4 cm, lebar 4,4 cm, tebal 2,6 cm. Secara embriologis terdiri dari 5 lobus yaitu lobus medius 1 buah, lobus anterior 1 buah, lobus posterior 1 buah, lobus lateral 2 buah. Selama perkembangannya lobus medius, lobus anterior dan lobus posterior akan menjadi satu disebut lobus medius. Pada penampang lobus medius kadang-kadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus ini tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil berisi cairan seperti susu, kista ini disebut kelenjar prostat. Pada potongan melintang uretra pada posterior kelenjar prostat terdiri dari:

a.       Kapsul anatomis.
Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler. Jaringan kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok bagian :
1.      Bagian luar disebut kelenjar sebenarnya.
2.      Bagian tengah disebut kelenjar sub mukosal, lapisan ini disebut juga sebagai adenomatus zone.
3.      Di sekitar uretra disebut periuretral gland. Saluran keluar dari ketiga kelenjar tersebut bersama dengan saluran dari vesika seminalis bersatu membentuk duktus ejakulatoris komunis yang bermuara ke dalam uretra. Menurut Mc Neal, prostat dibagi atas : zona perifer, zona sentral, zona transisional, segmen anterior dan zona spingter preprostat. Prostat normal terdiri dari 50 lobulus kelenjar. Duktus kelenjar-kelenjar prostat ini lebih kurang 20 buah, secara terpisah bermuara pada uretra prostatika, dibagian lateral verumontanum, kelenjar-kelenjar ini dilapisi oleh selaput epitel torak dan bagian basal terdapat sel-sel kuboid (Anderson, 1999).
2.2.2  Fisiologi
Pada laki-laki remaja prostat belum teraba pada colok dubur, sedangkan pada orang dewasa sedikit teraba dan pada orang tua biasanya mudah teraba. Sedangkan pada penampang tonjolan pada proses hiperplasi prostat, jaringan prostat masih baik. Pertambahan unsur kelenjar menghasilkan warna kuning kemerahan, konsisitensi lunak dan berbatas jelas dengan jaringan prostat yang terdesak berwarna putih ke abu-abuan dan padat. Apabila tonjolan itu ditekan, keluar cairan seperti susu. Apabila jaringan fibromuskuler yang bertambah tonjolan berwarna abu-abu padat dan tidak mengeluarkan cairan sehingga batas tidak jelas. Tonjolan ini dapat menekan uretra dari lateral sehingga lumen uretra menyerupai celah. Terkadang juga penonjolan ini dapat menutupi lumen uretra, tetapi fibrosis jaringan kelenjar yang berangsur-angsur mendesak prostat dan kontraksi dari vesika yang dapat mengakibatkan peradangan (Brunner & Suddarth, 2002).

2.3  Etiologi atau Predisposisi
Menurut Alam tahun 2004 penyebab pembesaran kelenjar prostat belum diketahui secara pasti, tetapi hingga saat ini dianggap berhubungan dengan proses penuaan yang mengakibatkan penurunan kadar hormon pria, terutama testosteron. Para ahli berpendapat bahwa dihidrotestosteron yang mamacu pertumbuhan prostat seperti yang terjadi pada masa pubertas adalah penyebab terjadinya pembesaran kelenjar prostat. Hal lain yang dikaitkan dengan gangguan ini adalah stres kronis, pola makan tinggi lemak, tidak aktif olahraga dan seksual. Selain itu testis menghasilkan beberapa hormon seks pria, yang secara keseluruhan dinamakan androgen. Hormon tersebut mencakup testosteron, dihidrotestosteron, dan androstenesdion. Testosteron sebagian besar dikonversikan oleh enzim 5-alfa- reduktase menjadi dihidrotestosteron yang lebih aktif secara fisiologis di jaringan sasaran sebagai pengatur fungsi ereksi. Tugas lain dari testosteron adalah pemicu libido, pertumbuhan otot dan mengatur doposit kalsium di tulang. Penurunan kadar testosteron telah diketahui sebagai penyebab dari penurunan libida, massa otot, melemahnya otot pada organ seksual dan kesulitan ereksi. Selain itu kadar testosteron yang rendah juga dapat menyebabkan masalah lain yang tidak segera terlihat, yaitu pembesaran kelenjar prostat. Dalam keadaan stres, tubuh memproduksi lebih banyak steroid stres (karsitol) yang dapat menggeser produksi DHEA (dehidroepianandrosteron). DHEA berfungsi mempertahankan kadar hormon seks yang normal, termasuk testosteron. Stres kronis menyebabkan penuaan dini dan penurunan fungsi testis pria. Kolesterol tinggi juga dapat mengganggu keseimbangan hormonal dan menyebabkan terjadinya pembesaran prostat.
Faktor lain adalah nikotin dan konitin ( produk pemecahan nikotin) yang meningkatkan aktifitas enzim perusak androgen, sehingga menyebabkan penurunan kadar testosteron. Begitu pula toksin lingkungan (zat kimia yang banyak digunakan sebagai pestisida, deterjen atau limbah pabrik) dapat merusak fungsi reproduksi pria.



2.4  Patofisiologi
Menurut Purnomo 2011 pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk mengeluarkan urine, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomik buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Perubahan struktur pada bulu-buli tersebut, oleh pasien disarankan sebagai keluhkan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala prostatismus. Tekanan intravesikal yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian bulibuli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko ureter. Keadaan keadaan ini jIka berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal. Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak hanya disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat uretra posterior, tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang pada stroma prostat, kapsul prostat, dan otot polos pada leher buli-buli. Otot polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus pudendus. Menurut Mansjoer tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi pada leher buli-buli dan daerah prostat meningkat, serta otot detrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio urin yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.

2.5  Manifestasi Klinis
1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah :
a. Obstruksi :
1.      Hesistensi (harus menggunakan waktu lama bila mau miksi)
2.      Pancaran waktu miksi lemah
3.      Intermitten (miksi terputus)
4.      Miksi tidak puas
5.      Distensi abdomen
6.      Volume urine menurun dan harus mengejan saat berkemih.
b. Iritasi : frekuensi sering, nokturia, disuria.
1.      Gejala pada saluran kemih bagian atas
2.      Nyeri pinggang, demam (infeksi), hidronefrosis.
3.      Gejala di luar saluran kemih :
Keluhan pada penyakit hernia/hemoroid sering mengikuti penyakit hipertropi prostat. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdominal (Sjamsuhidayat, 2004).
Adapun gejala dan tanda yang tampak pada pasien dengan Benigna Prostat Hipertroplasi:
a)      Sering buang air kecil dan tidak sanggup menahan buang iar kecil, sulit mengeluarkan atau menghentikan urin. Mungkin juga urin yang keluar hanya merupakan tetesan belaka.
b)      Sering terbangun waktu tidur di malam hari, karena keinginan buang air kecil yang berulang-ulang.
c)      Pancaran atau lajunya urin lemah
d)     Kandung kemih terasa penuh dan ingin buang iar kecil lagi
e)      Pada beberapa kasus, timbul rasa nyeri berat pada perut akibat tertahannya urin atau menahan buang air kecil (Alam, 2004). Gejala generalisata juga mungkin tampak, termasuk keletihan, anoreksia, mual dan muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik (Brunner & Suddarth, 2002).
Secara klinik derajat berat, dibagi menjadi 4 gradiasi, yaitu:
1.      Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada DRE (digital rectal examination) ditemukan penonjolan prostat dan sisa urine kurang dari 50 ml.
2.      Derajat 2 : Ditemukan tanda dan gejala seperti pada derajat 1, prostat lebih menonjol, batas atas masih teraba dan sisa urine lebih dari 50 ml tetapi kurang dari 100 ml.
3.      Derajat 3 : Seperti derajat 2, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urin lebih dari 100 ml.
4.      Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi total.

2.6  Komplikasi
Kebanyakan prostatektomi tidak menyebabkan impotensi (meskipun prostatektomi perineal dapat menyebabkan impotensi akibat kerusakan saraf pudendal yang tidak dapat dihindari). Pada kebanyakan kasus, aktivitas seksual dapat dilakukan kembali dalam 6 sampai 8 Minggu, karena saat ini fossa prostatik telah sembuh. Setelah ejakulasi, maka cairan seminal mengalir ke dalam kandung kemih dan diekskresikan bersama urin (Brunner & Suddarth, 2002).
Apabila buli-buli menjadi dekompensasi, akan terjadi retensio urin. Karena produksi urin terus berlanjut maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung urin sehinnga tekanan intravesika meningkat, dapat timbul hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal (Mansjoer, 2000).

2.7  Penatalaksanaan
1.      Modalitas terapi BPH adalah :
a)      Observasi yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3-6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien.
b)      Medikamentosa : terapi ini diindikasikan pada BPH dengan Keluhan ringan, sedang, sedang dan berat tanpa disertai penyulit. Obat yang digunakan berasal dari phitoterapi (misalnya : Hipoxis rosperi, serenoa repens, dll), gelombang alfa blocker dan golongan supresor androgen.

2.      Indikasi pembedahan pada BPH adalah :
a.       Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut (100 ml).
b.      Klien dengan residual urin yaitu urine masih tersisa di kandung kemih setelah klien buang air kecil > 100 Ml.
c.       Klien dengan penyulit yaitu klien dengan gangguan sistem perkemihan seperti retensi urine atau oliguria.
d.      Terapi medikamentosa tidak berhasil.
e.       Flowcytometri menunjukkan pola obstruktif.
Pembedahan dapat dilakukan dengan :
1.      TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat).
a.       Jaringan abnormal diangkat melalui rektroskop yang dimasukan melalui uretra.
b.      Tidak dibutuhkan balutan setelah operasi.
c.       Dibutuhkan kateter foley setelah operasi.
2.      Prostatektomi Suprapubis
a.       Penyayatan perut bagian bawah dibuat melalui leher kandung kemih.
b.      Diperlukan perban luka, drainase, kateter foley, dan kateter suprapubis setelah operasi.
3.      Prostatektomi Neuropubis
a.       Penyayatan dibuat pada perut bagian bawah.
b.      Tidak ada penyayatan pada kandung kemih.
c.       Diperlukan balutan luka, kateter foley, dan drainase.
4.      Prostatektomi Perineal
a.       Penyayatan dilakukan diantara skrotum dan anus.
b.      Digunakan jika diperlukan prostatektomi radikal.
c.       Vasektomi biasanya dikakukan sebagai pencegahan epididimistis.
d.      Persiapan buang hajat diperlukan sebelum operasi (pembersihan perut, enema, diet rendah sisa dan antibiotik).
e.       Setelah operasi balutan perineal dan pengeringan luka (drainase) diletakan pada tempatnya kemudian dibutuhkan rendam duduk.
Pada TURP, prostatektomi suprapubis dan retropubis, efek sampingnya dapat meliputi:
a)      Inkotenensi urinarius temporer
b)      Pengosongan urine yang keruh setelah hubungan intim dan kemandulan sementara (jumlah sperma sedikit) disebabkan oleh ejakulasi dini kedalam kandung kemih.

2.8   Pengkajian
Dari data yang telah dikumpulkan pada pasien dengan BPH : Post Prostatektomi dapat penulis kelompokkan menjadi:
A.    Data subyektif :
1.      Pasien mengeluh sakit pada luka insisi, karakteristik luka, luka berwarna merah.
2.      Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual.
3.      Pasien selalu menanyakan tindakan yang dilakukan.
4.      Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa.
B.     Data Obyektif:
1.      Terdapat luka insisi, karakteristik luka berwarna merah.
2.      Takikardia, normalnya 80-100 kali/menit.
3.      Gelisah.
4.      Tekanan darah meningkat, normalnya 120/80 mmHg.
5.      Ekspresi wajah ketakutan.
6.      Terpasang kateter.
C.     Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan laboratorium
Analisis urine dan pemeriksaan mikroskopis urin penting untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri, dan infeksi. Bila terdapat hematuria, harus diperhitungkan etiologi lain seperti keganasan pada saluran kemih, batu, infeksi saluran kemih, walaupun BPH sendiri dapat menyebabkan hematuria. Elektrolit, kadar ureum dan kreatinin darah merupakan informasi dasar dan fungsi ginjal dan status metabolik. Pemeriksaan Prostat Specific Antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar penentuan perlunya biopsy atau sebagai deteksi dini keganasan. Bila nilai SPA < 4mg/ml tidak perlu biopsy. Sedangkan bila nilai SPA 4–10 mg/ml, hitunglah Prostat Spesific Antigen Density (PSAD) yaitu PSA serum dibagi dengan volume prostat. Bila PSAD > 0,15 maka sebaiknya dilakukan biopsi prostat, demikian pula bila nilai PSA > 10 mg/ml.
2.      Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah foto polos abdomen, pielografi intravena, USG dan sitoskopi. Dengan tujuan untuk memperkirakan volume BPH, menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residu urine, mencari kelainan patologi lain, baik yang berhubungan maupun yang tidak berhubungan dengan BPH. Dari semua jenis pemeriksaan dapat dilihat:
a.       Dari foto polos dapat dilihat adanya batu pada batu traktus urinarius, pembesaran ginjal atau buli – buli.
b.      Dari pielografi intravena dapat dilihat supresi komplit dari fungsi renal, hidronefrosis dan hidroureter, fish hook appearance (gambaran ureter belok–belok di vesika)
c.       Dari USG dapat diperkirakan besarnya prostat, memeriksa masa ginjal, mendeteksi residu urine, batu ginjal, divertikulum atau tumor buli – buli (Mansjoer, 2000).
D.    Pemeriksaan Diagnostik.
1.      Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap/terang, penampilan keruh, Ph : 7 atau lebih besar, bacteria
2.      Kultur Urine : adanya staphylokokus aureus, proteus, klebsiella, pseudomonas, e. coli.
3.      BUN / kreatinin : meningkat.
4.      IVP : menunjukan perlambatan pengosongan kandung kemih dan adanya pembesaran prostat, penebalan otot abnormal kandung kemih.
5.      Sistogram : suatu gambaran rontgen dari kandung kemih yang diperoleh melalui urografi intravena.
6.      Sistouretrografi berkemih : sebagai ganti IVP untuk menvisualisasi kandung kemih dan uretra dengan menggunakan bahan kontras lokal.
7.      Sistouretroscopy : untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat dan kandung kemih.
8.      Transrectal ultrasonografi : mengetahui pembesaran prosat, mengukur sisa urine dan keadaan patologi seperti tumor atau batu (Sjamsuhidayat, 2004)

2.9   Diagnosa Keperawatan Intervensi Dan Rasional

1.      Gangguan rasa nyaman nyeri suprapubik berhubungan dengan spasme otot spincter.
a.       Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang
b.      Kriteria hasil: Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang, Pasien dapat beristirahat dengan tenang.
c.       Intervensi:
1.      Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.
Rasional : Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan atau keefektifan intervensi.
2.      Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi).
Rasional : memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan keefektifan dalam menentukan pilihan atau keefektifan intervensi.
3.      Beri kompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah. Rasional : Untuk meningkatkan relaksasi otot.
4.      Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang).
Rasional : Untuk menurunkan spasme kandung kemih.
5.      Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasif.
Rasional : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

6.      Lakukan perawatan aseptik terapeutik.
Rasional : untuk mengurangi resiko infeksi.
7.      Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat.
Rasional : Pembesaran prostat dapat terjadi dengan hilangnya sebagian kelenjar.

2.      Perubahan pola eliminasi urine: retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder.
a.       Tujuan : Tidak terjadinya retensi urine
b.      Kriteria hasil :
1.      Pasien dapat buang air kecil teratur bebas dari distensi kandung kemih.
2.      Menunjukan residu pasca berkemih kurang dari 50 ml, dengan tak adanya tetesan/kelebihan.
c.       Intervensi :
1.      Lakukan irigasi kateter secara berkala atau terus- menerus dengan teknik steril.
Rasional : Menghindari terjadinya gumpalan yang dapat menyumbat kateter, menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih
2.      Atur posisi selang kateter dan urin bag sesuai gravitasi dalam keadaan tertutup.
Rasional : Untuk mencegah peningkatan tekanan pada Kandung kemih.
3.      Observasi adanya tanda-tanda shock/hemoragi (hematuria, dingin, kulit lembab, takikardi, dispnea).
Rasional : Untuk mencegah komplikasi berlanjut.
4.      Mempertahankan kesterilan sistem drainage cuci tangan sebelum dan sesudah menggunakan alat dan observasi aliran urin serta adanya bekuan darah atau jaringan.
Rasional : Pemberi perawatan menjadi penyebab terbesar infeksi nosokomial. Kewaspadaan umum melindungi pemberi perawatan dan pasien.
5.      Monitor urine setiap jam (hari pertama operasi) dan setiap 2 jam (mulai hari kedua post operasi).
Rasional : Cairan membantu mendistribusikan obat-obatan ke seluruh tubuh. Risiko terjadinya ISK dikurangi bila aliran urine encer konstan dipertahankan melalui ginjal.
6.      Ukur intake output cairan.
Rasional : Menjamin keamanan untuk membantu penyembuhan pascaoperasi.
7.      Beri tindakan asupan/pemasukan oral 2000-3000 ml/hari, jika tidak ada kontra indikasi.
Rasional : Cairan membantu mendistribusikan obat-obatan ke seluruh tubuh. Risiko terjadinya ISK dikurangi bila aliran urine encer konstan dipertahankan melalui ginjal.
8.      Berikan latihan perineal (kegel training) 15-20x/jam selama 2-3m minggu, anjurkan dan motivasi pasien untuk melakukannya. Rasional : Mengajarkan pasien bagaimana melakukannya sendiri.

3        Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan sumbatan saluran ejakulasi, hilangnya fungsi tubuh.
a.       Tujuan : Tidak terjadinya disfungsi seksual
b.      Kriteria hasil : Pasien menyadari keadaannya dan akan mulai lagi intaraksi seksual dan aktivitas secara optimal.
c.       Intervensi :
1.      Motivasi pasien untuk mengungkapkan perasaannya yang berhubungan dengan perubahannya.
Rasional : Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan atau keefektifan intervensi.
2.      Jawablah setiap pertanyaan pasien dengan tepat.
Rasional : Untuk menginformasikan kondisi klien.
3.      Beri kesempatan pada pasien untuk mendiskusikan perasaannya tentang efek prostatektomi dalam fungsi seksual.
Rasional : Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan atau keefektifan intervensi.
4.      Libatkan kelurga/istri dalam perawatan pmecahan masalah fungsi seksual.
Rasional : Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan atau keefektifan intervensi.
5.      Beri penjelasan penting tentang:
a.       Impoten terjadi pada prosedur radikal
b.      Adanya kemungkinan fungsi seksual kembali normal
c.       Adanya kemunduran ejakulasi.
Rasional : Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan atau keefektifan intervensi.
6.      Anjurkan pasien untuk menghindari hubungan seksual selama 1 bulan (3-4 minggu) setelah operasi.
Rasional : Menjamin keamanan untuk membantu penyembuhan pascaoperasi.

4        Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan port de entrĂ©e mikroorganisme melalui kateterisasi, dan jaringan terbuka.
a.       Tujuan : Tidak terjadinya infeksi
b.      Kriteria hasil: Tanda-tanda vital dalam batas normal, Tidak ada bengkak, aritema, nyeri, Luka insisi semakin sembuh dengan baik
c.       Intervensi :
1.      Lakukan irigasi kandung kemih dengan larutan steril.
Rasional : Gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih.
2.      Observasi insisi (adanya indurasi drainage dan kateter), (adanya sumbatan, kebocoran).
Rasional : Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan dapat menyebabkan distensi kandung kemih, dengan peningkatan spasme.
3.      Lakukan perawatan luka insisi secara aseptik, jaga kulit sekitar kateter dan drainage.
Rasional : Untuk mengurangi resiko infeksi
4.      Monitor balutan luka, gunakan pengikat bentuk T perineal untuk menjamin dressing.
Rasional : Untuk mengurangi resiko infeksi.

5.      Monitor tanda-tanda sepsis (nadi lemah, hipotensi, nafas meningkat, dingin).
Rasional : Deteksi awal terhadap komplikasi dengan intervensi yang tepat dapat mencegah kerusakan jaringan yang permanen.

5        Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit, perawatannya.
a.       Tujuan : Pengetahuan pasien dapat meningkat
b.      Kriteria hasil : Secara verbal pasien mengerti dan mampu mengungkapkan dan mendemonstrasikan perawatan.
c.       Intervensi :
1.      Motivasi pasien/keluarga untuk mengungkapkan pernyataannya tentang penyakit.
Rasional : Memberikan informasi sejauh mana pengetahuan klien tentang penyakit yang dialami.
2.      Berikan pendidikan pada pasien/keluarga tentang:
a.       Perawatan lsuka, pemberian nutrisi, cairan irigasi, kateter.
b.      Perawatan di rumah, adanya tanda-tanda hemoragi.
Rasional : Memberikan informasi kepada klien/keluarga klien cara perawatan pasca operasi.

6.      Anxietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi, ditandai dengan : Gelisah, Informasi kurang
a.       Tujuan : Tidak terjadinya ansietas.
b.      kriteria hasil : Klien tidak gelisah, Tampak rileks
c.       Intervensi :
1.      Kaji tingkat anxietas.
Rasional : Mengetahui tingkat anxietas yang dialami klien, sehingga memudahkan dalam memberikan tindakan selanjutnya.
2.      Observasi tanda-tanda vital.
Rasional : Indikator dalam mengetahui peningkatan anxietas yang dialami klien.
3.      Berikan informasi yang jelas tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan.
Rasional : Mengerti/memahami proses penyakit dan tindakan yang diberikan.


BAB III
KESIMPULAN

Hiperplasia kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna pada populasi pria lanjut usia. Dengan bertambah usia, ukuran kelenjar dapat bertambah karena terjadi hiperplasia jaringan fibromuskuler dan struktur epitel kelenjar (jaringan dalam kelenjar prostat). Gejala dari pembesaran prostat ini terdiri dari gejala obstruksi dan gejala iritatif.
Penatalaksanaan BPH berupa watchful waiting, medikamentosa, terapi bedah konvensional, dan terapi minimal invasif.



DAFTAR PUSTAKA

1.      Carpenito, Lynda Juall. (1999). Nursing Care Plans and Dokumentation : Nursing Diagnosis and Collaboration Problems. (Monica Ester, Penerjemah). Eight Edition.Philadelphia : Lippincott-Raven Publisher. (sumber asli diterbitkan 1995)
2.      Doonges, Marilynn  E. (1999). Nursing Care Plans ( I Made K, penerjemah ) Third Edition.Jakarta : EGC. (sumber asli diterbitkan 1993)
3.      Lyer, Patricia W. (2004). Nursing Documentation : A Nursing Approach (Sari K, Penerjemah) Third Edition. Flemington : Mosby inc. (sumber asli diterbitkan 1999)
4.      Potter, Patricia A. (2005). Fundamentals of Nursing : Concept, Processand Practise(Yasmin Asih, Penerjemah) Volume I Fourth Edition. Saint Louis : Mosby Year Book inc. (sumber asli diterbitkan 1997)
5.      Purnomo, Basuki B. Hiperplasia prostat dalam: Dasar – dasar urologi., Edisi ke – 2. Jakarta